Aku terduduk dibangku belakang sebuah sedan coklat yang melaju lambat terhambat kemacetan ibu kota yang selalu menggerayangi pagi hari, rasanya masih terlalu pagi untuk beranjak dari rumah matakupun masih terlalu berat untuk terbuka.
Hmmm… teleponku berdering lagi.. dari kantor menanyakan keberadaanku.. dengan malas ku angkat mengatakan aku masih dijalan merayapi aspal yang mulai terbakar fajar. Kupaksakan mataku untuk terbuka lebar memperhatikan jalanan yang disesaki pemburu waktu sama sepertiku. Kulihat langit berusaha mengalihkan perhatian dari jemu kemacetan. Aku menyukai langit dari dulu aku menyukainya, memang ada saat – saat dimana aku tidak ingin menatapnya.
Yach hubunganku dengan langit bia dibilank seperti hubungan pasangan yang sudah lama bersama. Aku menyukainya, mencintainya, mengaguminya, merindukannya, ingin terus bersamanya, membencinya, dan ingin berlari darinya karena bosan semua menjadi satu. Tapi bagaimanapun keadaan langit aku suka saat bisa menikmatiya walau sesaat.
Aku suka ketika awan membentuk diri bagaikan coretan kuas pelukis abstrak yang begitu indah dengan paduan warna yang sempurna ketika fajar,siang dan senja.
Aku suka ketika air mata langit membasahi lekuk wajahku dan menembus helai kain yang kubalutkan menutupi tubuhku, menyentuhku perlahan tetes demi tetes terasa begitu dingin dan kemudian muncul rasa yang berbeda dihatiku tergantung keadaan. Saat aku bahagia rasanya menyegarkan dan saat aku sedih rasanya memilukan.
Aku suka ketika petir membelah langit menunjukan keperkasaannya disambut teriakan kemarahannya, terdengar menakutkan.
Bila malam muncul aku suka ketika bintang menempatkan dirinya diantara kegelapan seperti sebuah harapan, lalu mereka membentuk formasi seakan ingin bercerita tentang diri mereka.
Lalu aku teringat tentang dia,wanita yang telah mencuri seluruh hatiku dan meninggalkanku tanpa hati karena dia membawanya serta.
Kini kujalani hidupku sendiri tanpanya tanpa kehadirannya. Namun entah mengapa aku merasa tidak kesepian atas kesendirianku. Kenangannya menemaniku senyumannya menghiasi langit yang menjadi kekasih gelapku.
Ada saat dimana aku merasa begitu marah atas kepergiannya. Aku menjadi begitu terobsesi untuk memilikinya dan aku menjadi begitu egois untuk bersamanya. Dan masa itu berlalu tersisalah aku disini yang tetap begitu mencintainya.
Aku mulai berpikir sedang apa dia mungkin sedang tidur, dia tidak biasa bangun sepagi ini. entah mengapa aku mulai berbicara pada Tuhanku, meminta sedikit belas kasihnya atas diriku yang nista ini.
“Tuhan bahagiakan dia.. seandainya nanti aku bertemu dengannya semoga senyuman yang kulihat diwajahnya.. aku telah menjadi orang yang tak pantas dengan semua ego dan amarahku.. maafkan aku Tuhan.. aku memang tak pantas untuknya maka berikan apa yang pantas untuknya.. Tuhan terima kasih atas semua kasihmu.. dan terima kasih atas pertemuan dan perpisahan ini.. aku percaya atas rencanamulah yang terbaik.. maka perpisahan inipun akan menjadi yang terbaik bagi ku.. amien”
Hah akhirnya sampai juga meja dan kursi sudah siap untuk rapat panjang hari ini.. saatnya mengeluarkan i-bot dari kandangnya memberinya sedikit kejutan listrik untuk mengisi perutnya sebelum bekerja. Sudah jam 8.30 dia pasti sudah bangun dan sedang makan pagi. Semoga hari ini indah untuknya dan diriku amien.