obrolan sabtu sore di c’tu
Beberapa waktu lalu aku berdebat dengan seorang teman baikku. Perdebatan kami seputar sifat kerasku yang angkuh ketika kita membahas tentang hati. Dihampir setiap kalimat yang kulontarkan kan aku selalu memulainya dengan kata “ya menurut pemikirannya …..” atau “ ya logiknya sech ….” Sampai pada satu titik dia berkata “ kalo logiknya gitu,terus hatinya gimana ?” aku masih tetap keras dengan berkata “ya hubungan itu mesti logiklah kalo ikutin hati ga akan kelar” Dia hanya tertawa dan dia bilank “ kalo hubungan mesti logic kaya kata lo terus ngapain lo masih duduk disini, napa ga lo kejar cewe tadi” aku diam saja dan dia melanjutkan “ karena lo masih sayang kan lo belum bisa ngebuka hati lo buat orang lain karena hati lo masih buat dia kan, padahal itu ga logic dia dah ga ada terus apa lagi mau lo” aku semakin terdiam ku hisap rokokku dalam – dalam kalimat itu begitu dalam menohokku. Aku masih begitu mencintainya, aku masih begitu merindukannya walau aku tau dia sudah tak ada dan tak peduli. Terdengar bodoh dalam logikaku. Tak masuk diakal rasanya yang kulakukan sekarang menjalani hidup sendiri ketika aku bisa bersama orang lain yang mungkin lebih baik dari dia. Ini seperti saat kita begitu menyayangi sesuatu lalu kehilangan hal itu dan kita tak ingin memiliki yang lain karena tidak ingin menggantikanya karena kita pikir tak ada yang bisa menggantikan. Dan kita membiarkan diri kita hidup bersama kenangan akan dirinya. Logikaku berkata ini bodoh, pengalamanku juga berkata ini salah. Kita bisa saja tetap mengenangnya dan mencari orang lain bukan sebagai pengganti tapi hanya untuk meneruskan hidup. Tapi seperti kata temanku “ kalo logiknya gitu,terus hatinya gimana ?” kurasa hatiku berbeda hati ini masih mencintainya walau apa yang terjadi.